Kesenjangan antara Riset Kampus dan Kebutuhan Petani
Edukasi Jatim | Kamis, 3 September 2026
Abstrak
Perguruan tinggi di Jawa Timur memiliki kapasitas besar dalam menghasilkan riset dan inovasi pertanian. Namun, peningkatan jumlah penelitian belum otomatis berbanding lurus dengan pemanfaatannya di tingkat petani. Kesenjangan muncul ketika agenda penelitian lebih banyak ditentukan oleh orientasi akademik, sementara persoalan petani berkaitan dengan biaya produksi, akses modal, risiko iklim, keterbatasan teknologi, pasar, tenaga kerja, dan kepastian keuntungan. Artikel ini menganalisis kesenjangan antara produksi pengetahuan di perguruan tinggi dan kebutuhan praktis petani dengan pendekatan tinjauan literatur serta analisis kebijakan. Literatur menunjukkan bahwa adopsi inovasi dipengaruhi faktor ekonomi, kelembagaan, sosial, teknologi, pendidikan, akses penyuluhan dan kesesuaian inovasi dengan kondisi lokal. Studi di Jawa Timur juga menunjukkan bahwa modernisasi teknologi dapat meningkatkan kinerja ekonomi usahatani, tetapi pendampingan berkelanjutan diperlukan karena kompleksitas teknologi. Karena itu, hilirisasi riset tidak cukup dipahami sebagai proses menghasilkan prototipe atau paten. Hilirisasi harus berakhir pada teknologi yang terjangkau, mudah digunakan, sesuai kebutuhan lokal, dan memberikan keuntungan nyata bagi petani.
Kata kunci: riset pertanian, petani, hilirisasi, inovasi, teknologi pertanian, Jawa Timur, penyuluhan.
Pendahuluan: Banyak Riset, Sedikit yang Sampai ke Sawah
Ada paradoks dalam pembangunan pertanian Indonesia. Perguruan tinggi semakin aktif melakukan penelitian, pemerintah mendorong inovasi, sementara teknologi pertanian berkembang cepat. Tetapi bagi sebagian petani, persoalan paling mendasar belum berubah: pupuk mahal, harga hasil panen tidak pasti, air terbatas, serangan organisme pengganggu tanaman, biaya tenaga kerja meningkat dan akses pasar masih lemah.
Di sinilah muncul pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar berapa banyak penelitian yang dihasilkan kampus: berapa banyak hasil penelitian yang benar-benar mengubah kehidupan petani?
Pertanyaan tersebut semakin relevan di Jawa Timur. Provinsi ini merupakan salah satu kawasan pertanian penting nasional dengan ekosistem produksi yang sangat beragam, mulai dari padi, jagung, tebu, hortikultura, perkebunan hingga peternakan. Pada saat yang sama, Jawa Timur memiliki banyak perguruan tinggi dengan fakultas pertanian, teknologi, peternakan, perikanan dan berbagai pusat penelitian.
Pemerintah sendiri mulai menempatkan hilirisasi sebagai agenda penting. Pada Juni 2026, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menegaskan pentingnya riset yang berdampak bagi masyarakat dan industri dalam forum perguruan tinggi di bawah LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur. (Dikti)
Pada Mei 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga memperkuat kolaborasi riset dan hilirisasi dengan BRIN dengan tujuan mendorong pemanfaatan teknologi tepat guna yang berdampak terhadap masyarakat dan pembangunan daerah. (Antara News)
Artinya, masalahnya bukan lagi apakah riset diperlukan. Masalahnya adalah bagaimana memastikan riset bergerak dari kampus menuju lahan pertanian.
Riset yang Bagus Belum Tentu Menjadi Teknologi yang Dipakai
Dalam dunia akademik, keberhasilan penelitian sering diukur melalui publikasi, sitasi, paten, prototipe, atau capaian hibah. Semua indikator itu penting.
Namun, ukuran tersebut belum menjawab pertanyaan petani.
Petani membutuhkan jawaban yang lebih sederhana.
Apakah teknologi itu murah? Apakah mudah digunakan? Apakah tersedia di desa? Apakah bisa diperbaiki jika rusak? Apakah meningkatkan produktivitas? Apakah mengurangi biaya? Dan yang paling penting: apakah memberikan keuntungan?
Perbedaan ukuran keberhasilan tersebut dapat menjadi sumber kesenjangan.
Sebuah penelitian dapat dinilai berhasil karena menghasilkan model kecerdasan buatan untuk mendeteksi penyakit tanaman. Tetapi jika petani tidak mempunyai smartphone yang memadai, jaringan internet tidak stabil, aplikasi sulit digunakan, atau biaya berlangganannya lebih tinggi daripada manfaat ekonominya, teknologi tersebut akan sulit diadopsi.
Kajian sistematis mengenai adopsi teknologi oleh petani di Asia Tenggara menunjukkan bahwa keputusan adopsi tidak hanya ditentukan oleh kualitas teknologi. Faktor rumah tangga, kelembagaan, ekonomi, teknologi, sosial dan perilaku ikut menentukan. (ScienceDirect)
Dengan kata lain, teknologi pertanian bukan sekadar persoalan teknologi.
Ia juga persoalan sosial dan ekonomi.
Petani Tidak Menolak Teknologi, Mereka Menghitung Risiko
Ada anggapan bahwa petani lambat menerima inovasi karena rendahnya pendidikan atau konservatisme. Pandangan semacam itu terlalu sederhana.
Petani sebenarnya melakukan perhitungan ekonomi yang rasional.
Ketika sebuah teknologi baru diperkenalkan, petani menghadapi risiko. Ada biaya pembelian alat, biaya belajar, kemungkinan kegagalan, biaya pemeliharaan dan ketidakpastian hasil.
Karena itu, inovasi yang terlalu rumit atau mahal dapat kalah dengan teknologi sederhana yang sudah dipahami.
Penelitian mengenai adopsi varietas padi unggul oleh petani kecil di Indonesia menunjukkan bahwa adopsi teknologi dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan. Studi tersebut menemukan peningkatan produktivitas sekitar 11,45 persen dan pendapatan sekitar 12,10 persen dibandingkan metode tradisional. Pendidikan, pengalaman bertani, akses terhadap penyuluh dan kepemilikan telepon seluler juga berhubungan positif dengan adopsi. (ScienceDirect)
Temuan tersebut memberikan pesan penting.
Petani bukan tidak membutuhkan inovasi. Petani membutuhkan inovasi yang manfaat ekonominya dapat mereka lihat.
Jawa Timur dan Masalah Teknologi yang Tidak Merata
Jawa Timur sebenarnya telah memiliki sejumlah contoh yang menunjukkan bahwa teknologi dapat diterapkan di tingkat petani.
Penelitian mengenai modernisasi usaha tani padi melalui demonstration farm di Jawa Timur menunjukkan bahwa teknologi modern dapat meningkatkan kinerja ekonomi usahatani. Tingkat penerimaan petani pada tahap awal juga relatif tinggi. Namun penelitian tersebut memberikan catatan penting: teknologi tetap memerlukan sosialisasi dan pendampingan karena kompleksitasnya, ini merupakan titik penting.
Demonstration farm tidak boleh menjadi tujuan akhir. Ia harus menjadi jembatan menuju adopsi massal.
Masalah muncul apabila proyek berhenti setelah kegiatan demonstrasi selesai.
Petani melihat teknologi ketika ada peneliti dan penyuluh. Setelah proyek selesai, alat tidak berfungsi, suku cadang tidak tersedia atau pendamping tidak lagi datang. Dalam situasi demikian, inovasi perlahan ditinggalkan.
Karena itu, keberhasilan inovasi seharusnya tidak diukur dari jumlah demplot yang dibuat, melainkan dari berapa banyak petani yang masih menggunakan teknologi tersebut dua atau tiga tahun setelah proyek selesai.
Penyuluh Harus Menjadi Jembatan, Bukan Sekadar Penyampai Informasi
Kesenjangan antara kampus dan petani juga berkaitan dengan sistem penyuluhan.
Peneliti menghasilkan pengetahuan. Petani membutuhkan solusi. Di antara keduanya terdapat penyuluh, kelompok tani, koperasi, pemerintah daerah dan pelaku usaha.
Peran penyuluh seharusnya tidak berhenti sebagai penyampai informasi dari lembaga penelitian kepada petani.
Kajian mengenai reformasi penyuluhan pertanian di Indonesia bahkan mengusulkan perubahan peran penyuluh menjadi intermediari inovasi—aktor yang tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi menggali kebutuhan petani dan menghubungkannya dengan sumber pengetahuan dan teknologi. (Penerbit BRIN)
Model ini lebih sesuai dengan persoalan pertanian modern.
Jika petani mengeluhkan serangan penyakit, penyuluh harus mampu membawa persoalan tersebut kepada peneliti. Jika peneliti menghasilkan teknologi pengendalian penyakit, penyuluh harus membantu menguji teknologi tersebut dalam kondisi nyata.
Dengan demikian, terjadi arus pengetahuan dua arah.
Bukan lagi:
kampus → penyuluh → petani.
Melainkan:
petani → penyuluh → peneliti → uji lapangan → petani.
Masalah Bukan Hanya Teknologi, tetapi Kesesuaian
Sebuah inovasi dapat gagal bukan karena teknologinya buruk, melainkan karena tidak sesuai dengan kondisi pengguna.
Penelitian mengenai adopsi inovasi pertanian di Jawa Timur telah menunjukkan pentingnya kesesuaian inovasi dengan kebutuhan petani. Studi di Kabupaten Blitar, misalnya, menemukan bahwa jaringan komunikasi antarpelaku berpengaruh dalam keputusan petani mengadopsi sistem greenhouse untuk budidaya melon. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa perluasan jaringan informasi dan pendampingan dari lembaga terkait menjadi penting dalam proses adopsi. (Repository UB)
Ini menunjukkan bahwa inovasi tidak bergerak melalui kabel, aplikasi atau mesin semata.
Ia bergerak melalui kepercayaan.
Petani lebih mudah mencoba teknologi ketika melihat petani lain memperoleh manfaat. Karena itu, petani percontohan, kelompok tani, demplot dan komunikasi antarpetani tetap penting bahkan ketika teknologi yang diperkenalkan sangat digital.
Ketika AI Bertemu Petani
Gelombang berikutnya adalah kecerdasan buatan.
AI dapat digunakan untuk memprediksi produksi, mendeteksi penyakit tanaman, menentukan kebutuhan air, memonitor kondisi lahan, memperkirakan harga dan mengoptimalkan penggunaan pupuk.
Tetapi terdapat risiko baru.
Jangan sampai Jawa Timur mengalami digitalisasi tanpa adopsi.
Aplikasi dibuat. Dashboard tersedia. Sensor dipasang. Data terkumpul. Namun petani tetap menggunakan cara lama karena sistem digital tersebut terlalu rumit.
Teknologi seharusnya mengikuti kebutuhan petani, bukan memaksa petani mengikuti desain teknologi.
Untuk petani kecil, sistem sederhana seperti notifikasi melalui telepon seluler, rekomendasi waktu pemupukan, peringatan serangan hama atau informasi cuaca lokal bisa lebih berguna daripada platform digital yang memiliki puluhan menu.
Penelitian Harus Dimulai dari Masalah Petani
Kesenjangan dapat diperkecil jika agenda riset diubah.
Selama ini, penelitian sering dimulai dengan pertanyaan:
“Teknologi apa yang dapat kita kembangkan?”
Pertanyaan tersebut perlu digeser menjadi:
“Masalah apa yang paling mahal bagi petani dan dapat diselesaikan melalui penelitian?”
Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya besar.
Misalnya, daripada langsung mengembangkan robot pertanian mahal, peneliti dapat terlebih dahulu menghitung sumber biaya terbesar dalam usaha tani.
Jika masalah utama adalah tenaga kerja, penelitian dapat diarahkan pada mekanisasi murah.
Jika masalahnya air, riset dapat diarahkan pada irigasi presisi.
Jika masalahnya pupuk, penelitian dapat menghasilkan rekomendasi pemupukan berbasis kondisi tanah.
Jika masalahnya harga, inovasi dapat diarahkan pada sistem informasi pasar dan kelembagaan pemasaran.
Dengan pendekatan tersebut, riset menjadi problem-driven research, bukan sekadar technology-driven research.
Dari Laboratorium ke Sawah: Model Hilirisasi Baru
Hilirisasi riset pertanian di Jawa Timur sebaiknya dilakukan melalui sedikitnya enam tahapan.
1. Identifikasi kebutuhan
Peneliti datang ke kelompok tani sebelum membuat proposal penelitian.
2. Co-design
Petani dilibatkan dalam merancang teknologi sehingga produk akhir sesuai dengan kondisi lapangan.
3. Uji lapangan
Teknologi diuji dalam kondisi nyata, bukan hanya laboratorium.
4. Analisis biaya dan manfaat
Penelitian wajib menghitung apakah teknologi memberikan keuntungan ekonomi bagi petani.
5. Pendampingan
Penyuluh, kelompok tani dan perguruan tinggi memberikan pendampingan minimal selama beberapa musim tanam.
6. Scale-up
Teknologi yang berhasil kemudian dihubungkan dengan koperasi, pemerintah daerah, industri, lembaga pembiayaan dan pasar.
Model tersebut sejalan dengan arah kebijakan nasional yang semakin menekankan integrasi riset, inovasi dan hilirisasi untuk menjawab persoalan pertanian, termasuk perubahan iklim, keterbatasan lahan dan peningkatan nilai tambah komoditas. (Dikti)
Jangan Mengukur Riset dari Jumlah Publikasi Saja
Perguruan tinggi membutuhkan sistem evaluasi yang lebih luas.
Publikasi tetap penting. Paten juga penting. Tetapi riset pertanian yang dibiayai publik seharusnya memiliki indikator dampak.
Misalnya:
berapa petani menggunakan teknologi;
berapa persen biaya produksi turun;
berapa persen produktivitas meningkat;
berapa peningkatan pendapatan petani;
berapa luas lahan yang mengadopsi inovasi;
berapa lama teknologi bertahan;
berapa banyak usaha baru yang muncul;
dan apakah teknologi tersebut dapat direplikasi di daerah lain.
Dengan indikator seperti itu, penelitian tidak berhenti pada output, tetapi bergerak menuju outcome dan impact.
Kebutuhan ini semakin penting karena pemerintah telah menyusun Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional 2026 dengan orientasi riset dan inovasi yang lebih terintegrasi, terukur dan berorientasi dampak. (Dikti)
Jawa Timur Membutuhkan Ekosistem, Bukan Proyek
Pemerintah Jawa Timur telah memperkuat kolaborasi dengan BRIN untuk mendorong teknologi tepat guna dan hilirisasi inovasi. (Antara News)
Di tingkat lapangan, BRMP Jawa Timur juga menjalankan berbagai kegiatan pendampingan modernisasi pertanian. Pada 2025, misalnya, kegiatan bimbingan teknis di Jember melibatkan petani dan penyuluh dalam topik teknologi digital, mitigasi perubahan iklim, kelembagaan kelompok tani dan pengendalian hama terpadu. (BBPMP Jawa Timur)
Langkah tersebut penting. Tetapi ekosistem inovasi tidak akan terbentuk hanya dengan seminar, pelatihan atau proyek tahunan.
Yang dibutuhkan adalah hubungan permanen antara:
perguruan tinggi – BRIN/BRMP – pemerintah daerah – penyuluh – kelompok tani – koperasi – industri – perbankan – pasar.
Masing-masing memiliki fungsi.
Kampus menghasilkan pengetahuan.
BRIN dan lembaga riset mengembangkan teknologi.
Pemerintah membuat kebijakan.
Penyuluh menerjemahkan teknologi.
Kelompok tani melakukan adopsi kolektif.
Industri menyediakan produksi dan layanan.
Lembaga keuangan menyediakan modal.
Pasar memastikan inovasi memiliki nilai ekonomi.
Tanpa rantai tersebut, hilirisasi mudah berubah menjadi slogan.
Kesimpulan
Kesenjangan antara riset kampus dan kebutuhan petani bukan semata-mata persoalan kurangnya penelitian. Indonesia, termasuk Jawa Timur, justru memiliki banyak lembaga penelitian dan perguruan tinggi.
Persoalannya adalah jarak antara pengetahuan dan penerapan.
Petani tidak membutuhkan teknologi yang sekadar canggih. Mereka membutuhkan teknologi yang murah, sederhana, tersedia, mudah dirawat, sesuai dengan kondisi lokal dan menghasilkan keuntungan.
Karena itu, paradigma penelitian pertanian perlu bergeser dari “publish or perish” menuju “impact or irrelevant”—bukan berarti publikasi tidak penting, tetapi publikasi harus menjadi bagian dari proses menghasilkan perubahan nyata.
Bagi Jawa Timur, tantangan berikutnya bukan sekadar membangun lebih banyak laboratorium atau menghasilkan lebih banyak prototipe. Tantangannya adalah memastikan inovasi tersebut mampu menyeberangi jalan dari kampus menuju sawah, kandang dan kebun.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah riset pertanian bukan hanya ketika peneliti berhasil menjelaskan sesuatu.
Riset baru benar-benar berhasil ketika petani dapat menggunakannya untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
(~cal)
Referensi:
Adhikari, S., et al. (2024). The productivity and income effects of adopting improved rice varieties by smallholder farmers in Indonesia. Journal of Agribusiness in Developing and Emerging Economies, 16(1), 105–122. (ScienceDirect)
Factors affecting behavioral intentions of farmers in Southeast Asia to technology adoption: A systematic review analysis. (2024). Journal of Environmental Management, 367, 122045. (ScienceDirect)
The effectiveness of agricultural extension in rice farming in Bantaeng Regency, Indonesia: Employing structural equation modeling in search for the effective ways in educating farmers. (2024). Journal of Agriculture and Food Research, 18, 101487. (ScienceDirect)
Empowering farmer community with technology modernisation to improve rice farming performance through demonstration farms in East Java, Indonesia. (2025). Journal of Agriculture and Food Research. (ScienceDirect)
Fostering farmers’ innovativeness through training and extension approaches: A systematic literature review. (2025). Journal of Innovation & Knowledge. (ScienceDirect)
When does new information encourage adoption, and where can we observe it: A synthesis of 3ie’s thematic window on agricultural innovation. (2025). World Development Perspectives, 37, 100647. (ScienceDirect)
A farmer data-driven approach for prioritization of agricultural research and development: A case study for intensive crop systems in the humid tropics. Agricultural Systems. (ScienceDirect)
Sirnawati, E. (2020). Urgensi Penyuluhan Pertanian Baru Indonesia: Sebuah Pemikiran Implementasi Konsep Intermediari Inovasi untuk Reformasi Penyuluhan Pertanian dari Perspektif Transfer Teknologi ke Sistem Inovasi. Penerbit BRIN. (Penerbit BRIN)
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2026). Dukung Pembangunan Sektor Pertanian, Kemdiktisaintek Menandatangani Kesepakatan Bersama Kementan dan BRIN. (Dikti)
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2026). Dirjen Risbang Tekankan Hilirisasi dan Riset Berdampak pada Rakerpim LLDIKTI Wilayah VII. (Dikti)
Pemerintah Provinsi Jawa Timur/ANTARA. (2026). Pemprov Jatim Perkuat Kolaborasi Riset dan Hilirisasi dengan BRIN. (Antara News)
BRMP Jawa Timur. (2025). Bimtek Pendampingan Program Strategis Kementan untuk Komoditas Padi di Kabupaten Jember. (BBPMP Jawa Timur)
BRMP Jawa Timur. (2025). Peran BRMP Jawa Timur dalam Mensukseskan Swasembada Pangan Nasional. (BBPMP Jawa Timur)
Pramudita, A. T., Hidayat, K., & Pintakami, L. B. (2024). Jaringan Komunikasi Petani dalam Pengambilan Keputusan Adopsi Inovasi Budidaya Melon dengan Greenhouse System di Desa Sumberkembar, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Universitas Brawijaya. (Repository UB)
BRIN. (2020). Iptek dan Masyarakat: Problematika Agrikultural di Indonesia. Penerbit BRIN. (Penerbit BRIN)
Komentar Pembaca