Oleh : M. Rozien Ar (Rakyat Sipil dan Alumni UIN Madura)*
Pernahkah kita tiba-tiba membenci atau menyukai seseorang padahal belum pernah bertemu, ngobrol ataupun berdiskusi secara langsung ? Di era digital saat ini, jutaan dari sebuah postingan di media sosial yang berbentuk video pendek maupun panjang mampu mengubah cara pandang jutaan orang.
Hari ini, propaganda tidak selalu berbentuk tulisan, desaign poster, apalagi slogan. Justru ia hadir dalam banyak unggahan, short video, meme, hingga rekomendasi algoritma. Ya, itulah kenyataannya.
Kita coba lihat dulu dari pengertiannya, Propaganda. Propaganda adalah bentuk komunikasi yang disengaja untuk memengaruhi pendapat, sikap, dan tindakan suatu kelompok atau masyarakat. Informasi yang disebarkan tidak bersifat objektif, melainkan dipilih secara khusus, dilebih-lebihkan, atau dimanipulasi demi kepentingan pihak tertentu.
Harold Lasswell salah satu tokoh perintis Studi Komunikasi mendefinisikan propaganda pada tahun 1928 sebagai "pengelolaan sikap kolektif melalui manipulasi simbol-simbol yang bermakna." Definisi ini tetap menjadi salah satu yang paling banyak digunakan oleh kalangan akademisi.
Definisi tersebut menunjukkan bahwa propaganda melibatkan serangkaian tindakan yang disengaja, mencakup komunikasi satu-ke-banyak (bukan satu-ke-satu), serta melibatkan manipulasi yang melampaui sekadar teks dan gambar, mencakup pula simbol-simbol budaya dan peminggiran narasi tandingan yang dianggap tidak menguntungkan.
Dalam artikelnya Dr. Colin Alexander di portal Nottingham Tren University menjelaskan bahwa propaganda digunakan oleh pemerintah, badan hukum, perusahaan, organisasi nirlaba, individu berpengaruh, dan bahkan masyarakat umum untuk mempromosikan kepentingan mereka serta memanipulasi lingkungan informasi di sekitar mereka.
Tujuan utama propaganda adalah memengaruhi, membentuk, dan mengarahkan opini, sikap, serta tindakan masyarakat agar sesuai dengan kepentingan atau agenda pihak tertentu, seperti mengubah cara pandang orang terhadap suatu isu, tokoh, atau kelompok. Terutama juga dalam membujuk mereka untuk mendukung suatu agenda.
PERBEDAANNYA DENGAN EDUKASI, INFORMASI, DAN PERSUASI
Perbedaan utamanya itu terletak pada tujuan dan cara penyampaian pesan, di mana informasi bersifat netral, edukasi bertujuan mencerdaskan, persuasi bersifat mengajak secara timbal balik, dan propaganda berfokus mengarahkan opini sepihak demi kepentingan tertentu.
Karakteristiknya, propaganda itu menyebarkan ide atau sudut pandang secara satu arah, sering kali memanipulasi emosi dan fakta demi kepentingan pengirim tanpa ruang diskusi. Lalu edukasi memberikan pengetahuan dan pemahaman yang objektif serta berbasis fakta agar penerima pesan menjadi lebih pintar dan mandiri.
Kemudian, kalua informasi itu menyampaikan data atau kejadian apa adanya tanpa ada niat untuk mengubah pola pikir atau membujuk penerima. Sedangkan persuasi mengajak atau membujuk seseorang untuk melakukan sesuatu secara sukarela dengan pendekatan komunikasi dua arah yang saling menguntungkan.
Jadi, mengapa propaganda itu digunakan, ialah ketika pemerintah atau kelompok tertentu yang memiliki kepentingan dapat memakai cara ini supaya masyarakat berpikir, merasa, dan bertindak sesuai keinginan mereka. Itulah yang menjadi tujuan dan alasan mengapa propaganda dijadikan alat dan digunakan untuk kepentingan mereka, terlepas itu untuk kebaikan ataupun keburukan.
Nah, MENGAPA DISEBUT PROPAGANDA MODERN ?
Jadi, propaganda lama itu medianya yang digunakan bisa melalui poster, radio, pidato, surat kabar, atau televisi satu arah dari pihak penguasa atau lembaga besar. Namun, untuk propaganda saat ini (modern), memanfaatkan teknologi digital, media sosial, dan internet secara masif untuk membentuk opini publik secara cepat, tersembunyi, dan melibatkan banyak individu sekaligus.
Di media sosial dan internet dapat menggunakan platform digital seperti meme, berita palsu atau hoax, dana kun tiruan (bot). Terdesentralisasi, jadi tidak hanya disebarkan oleh satu lembaga atau negara, tetapi juga oleh banyak orang biasa di internet tanpa sadar, ia menyusup layaknya masyarakat biasa.
Personalisasi data juga dilakukan seperti pesan khusus yang menggunakan algoritma agar sesuai dengan kebiasaan atau kesukaan kelompok tertentu. Kemudian juga yang perlu diketahui, influencer salah satu alatnya yang diuganakan dengan memanfaatkan ribuan pengikutnya agar juga dapat terpengaruhi sesuai dengan keinginan atau tujuan mereka.
Ada beberapa faktor, mengapa propaganda kini lebih efektif.
a. Algoritma media sosial
Disadari ataupun tidak, kita lebih sering melihatb konten yang sesuai dengan minat dan keyakinan kita.
b. Emosi lebih cepat menyebar daripada fakta
Jadi konten yang memicu marah, takut, atau bangga cenderung lebih mudah viral, hal inilah yang ampuh digunakan oleh mereka yang melakukan propaganda.
c. Informasi sangat melimpah
Akibatnya, orang yang malas, jenuh membaca informasi yang begitu banyak, sehingga akhirnya hanya sering membaca judul tanpa memerika isi.
d. Influencer sebagai pembentuk opini
Seperti yang suda ditulis diatas tadi, bahwa tidak semua propaganda itu dating dari pemerintah langsung. Figur publik, kreator konten, hingga tokoh yang dipercaya masyarakat juga dapat memengaruhi cara pandang banyak orang.
BENTUK-BENTUK PROPAGANDA MODERN
A. Media Sosial dan Internet
Buzzer dan akun palsu menyebar pesan tertentu agar terlihat seperti dukungan banyak orang. Meme dan konten visual yang mengubah isu serius menjadi gambar lucu yang cepat dibagikan. Kemudian algoritma Personalisasi yang mengatur informasi agar sesuai dengan kesukaan pembaca saja.
B. Bnetuk Pesan dan Informasi
Berita palsu (Hoax) dimana cerita bohong yang dibuat seolah-olah fakta. Memberikan informasi yang asli tapi dikurang-kurangi konteksnya. Kemudian pengalihan isu yang membahas hal lain untuk menutupi masalah besar.
PERPSEKTIF ILMU KOMUNIKASI
Dalam perspektif ilmu komunikasi, fenomena propaganda dan manipulasi informasi modern paling tepat dibedah menggunakan paradigma kritis dan positivistik melalui teori-teori efek media, konstruksi sosial, dan komunikasi jaringan berikut:
1. Teori Pembingkaian (Framing Theory)
Teori Framing dari Robert EntmanTeori ini menjelaskan bagaimana media mengorganisasikan gagasan agar audiens memiliki sudut pandang yang sama dengan komunikator.Cara Kerjanya melalui media yang memilih kata, foto, atau sudut pandang tertentu (selection) dan membuang fakta lainnya (exclusion). Framing media, manipulasi Foto/Video, dan Clickbait menggunakan teori ini untuk menonjolkan aspek sensasional demi mengarahkan kesimpulan audiens sejak detik pertama melihat pesan.
2. Teori Spiral Keheningan (Spiral of Silence Theory)
Teori dari Elisabeth Noelle-Neumann ini menyatakan bahwa individu cenderung menyembunyikan opininya jika mereka merasa berada di pihak minoritas karena takut terisolasi. Yang sering terjadi adalah ketika orang lebih memilih memantau iklim opini di sekitarnya sebelum berbicara secara terbuka. Buzzer dan Bot bekerja secara masif untuk menciptakan persepsi palsu bahwa opini mereka didukung oleh mayoritas (bandwagon effect). Akibatnya, kelompok penentang menjadi takut bersuara dan iklim opini berhasil dikuasai.
3. Teori Agenda Setting
Teori dari McCombs & Shaw ini menegaskan bahwa media tidak berhasil mendikte apa yang harus dipikirkan audiens, tetapi media sangat sukses mendikte apa yang harus dipikirkan tentang suatu isu. Isu yang diberi porsi besar oleh media atau trending di media sosial akan dianggap penting oleh publik. Propaganda politik dan pengalihan isu memanfaatkan teori ini untuk mengaburkan masalah krusial dengan menaikkan topik lain secara artifisial melalui algoritma jaringan.
4. Teori Hiperrealitas & Simulakra
Teori ekologi media postmodern dari Jean Baudillard ini menjelaskan situasi di mana simulasi atau replika dari kenyataan terasa lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Tanda dan simbol digital menggantikan realitas asli hingga batas antara fakta dan fiksi hancur total. Lalu kemudian Deepfake, Hoax, dan Disinformasi tingkat tinggi berakar dari sini. Audiens tidak lagi peduli apakah video atau informasi tersebut asli, melainkan apakah konten tersebut sesuai dengan keyakinan emosional mereka.
5. Teori Pengkondisian Klasik (Classical Conditioning) & Jarum Hipodermik
Meskipun Teori Jarum Hipodermik (efek media langsung dan kuat) adalah teori klasik, konsepnya relevan kembali dalam komunikasi algoritma modern. Dimana audiens dianggap pasif dan langsung menerima pesan yang ditembakkan secara bertubi-tubi. Lalu Propaganda Komersial dan Propaganda Ideologi menggunakan algoritma personalisasi media sosial untuk membombardir beranda pengguna secara presisi (micro-targeting), sehingga membentuk perilaku konsumtif dan doktrin tertentu secara bawah sadar.
DAMPAK PROPAGANDA MODERN
Dampak propaganda modern di era digital mencakup polarisasi sosial yang tajam, menyebabkan terpecah belahnya kelompok warga menjadi kubu-kubu yang saling bermusuhan karena perbedaan pandangan. Hilangnya kepercayaan publik, dimana orang tidak lagi percaya pada lembaga resmi, ilmu pengetahuan, atau media berita sekalipun itu benar. Kemudian terjadinya konflik horizontal yang dapat memicu rasa benci dan permusuhan antarkelompok di masyarakat berdasarkan isu SARA atau politik.
Untuk mengatasi dampak propaganda modern tersebut, dibutuhkan kombinasi antara kecerdasan individu, kebijakan platform teknologi, dan regulasi pemerintah.
Langkah Individu, dengan cara saring nformasi sebelum sharing artinya jangan langsung menyebarkan informasi sebelum memeriksa kebenaran isinya secara mandiri. Periksa sumber berita dengan memastikan informasi berasal dari media resmi yang terdaftar dan memiliki reputasi baik.
Membaca dan mencari beberapa referensi berita yang berkaitan untuk mengetahui dan mendapatkan beberapa sudut pandang untuk menghindari jebakan algoritma satu arah. Lalu tetap mewaspadai berita dengan judul provokatif yang sengaja dibuat untuk memancing amarah atau ketakutan.
Langkah teknologi dan platform, dengan cara transparansi algoritma yaitu menuntut media sosial untuk tidak mengutamakan konten viral yang berisi kebencian atau hoaks. Kemudian menghapus akun robot (bots) dan memberikan label peringatan pada informasi yang terindikasi palsu.
Adapun langkah regulasi dari pemerintah dan hokum misalnya, edukasi massa yaitu dengan memasukkan materi literasi digital ke dalam kurikulum sekolah sejak usia dini. Lalu penegakan Hukum yang Adil dengan menindak tegas pembuat dan penyebar utama kampanye hitam atau hoaks.
Jadi, propaganda modern ini tidak selalu memaksa kita untuk percaya sepenuhnya. Ia lebih sering membuat kita merasa bahwa pilihan itu lahir dari pikiran kita sendiri, padahal mungkin saja telah dipengaruhi oleh informasi yang terus menerus kita konsumsi.
Seperti yang kita tau, di era digital saat ini, tantangan terbesar bukan hanya melawan informasi palsu, tetapi juga menjaga kemampuan berpikir kritis di tengah banjirnya informasi yang setiap hari berusaha memengaruhi cara kita melihat dunia.
Komentar Pembaca