Oleh : M. Rozien Ar (Rakyat Sipil dan Alumni UIN Madura)*

Dahulu kita sudah bisa percaya bahwa foto dan video bahkan rekaman suara adalah bukti yang sulit dibantah. Kini, saat kemajuan teknologi berkembang begitu pesat, membuat hal itu sudah dapat dimanipulasi  dengan sangat meyakinkan.

 

Bagaimana misalnya suatu hari kita melihat seorang tokoh mengucapkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia katakan? Kemungkinan tersebut bukan sesuatu yang mustahil di era saat ini, bahkan mungkin memang sudah bisa kita dapati contoh-contoh kasus yang telah terjadi, ya, dimana teknologi mengaburkan batas antara fakta dan  rekayasa.

 

Kini sering muncul konten manipulasi foto atau video dengan AI (Artificial Intellegence) yang merugikan pihak tertentu di media sosial. Seperti di aplikasi X, tidak sedikit orang yang mengakui bahwa dirinya pernah menjadi korban manipulasi foto, dari foto berbusana menjadi tak berbusana. Teknik memanipulasi gambar atau video dengan AI sehingga tercipta konten baru yang terlihat asli dan menyakinkan, itu disebut Deepfake.

 

Jadi, Deepfake adalah konten palsu berupa video, foto, atau suara yang dibuat memakai kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini bisa menukar wajah, meniru suara, dan mengubah gerakan seseorang agar terlihat nyata, padahal itu semua adalah hasil rekayasa.

 

Teknologi AI membuat gambar, suara, atau video palsu yang sangat nyata menggunakan teknik bernama deepfake dan pemodelan data mendalam (deep learning). Komputer dilatih mengenali pola wajah, gerak gerik, atau suara seseorang dari banyak foto dan rekaman asli, lalu menyatukannya untuk membentuk tiruan baru yang seolah-olah asli.

 

 

Hasil manipulasi AI tampak sangat realistis karena tiga alasan sederhana berikut:

1. Ada Dua AI yang Saling Mengoreksi

Di dalam sistem, ada satu AI yang bertugas membuat gambar palsu, dan satu AI lagi yang bertugas memeriksa kesalahannya. Mereka saling mengoreksi dan memperbaiki diri hingga jutaan kali dalam hitungan detik sampai hasilnya benar-benar sempurna tanpa cacat.

2. Belajar dari Banyak Contoh Nyata

AI tidak menebak-nebak. Sistem ini sudah mempelajari ribuan foto dan video asli dari orang yang ingin ditiru. AI tahu persis bagaimana bentuk wajah orang tersebut saat tersenyum, berbicara, atau menoleh dari berbagai sudut.

3. Meniru Detail Sangat Kecil

AI tidak cuma menempelkan wajah seperti stiker datar, tetapi juga meniru hal-hal detail secara otomatis, seperti: Gerakannya yang alami, kedipan mata dan kerutan di sekitar pipi saat tersenyum. Lalu pencahayaan, menyesuaikan gelap atau terangnya wajah palsu dengan warna lampu di video asli agar menyatu sempurna.

 

Teknologi deepfake berkembang sangat cepat karena dukungan algoritma deep learning yang semakin canggih, kemudahan akses perangkat lunak bagi pemula, luasnya penyebaran di media sosial, serta tingginya kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi konten visual instan.

 

Dibalik mengapa Deepfake berkembang pesat, tentunya ada dorongan teknologi yang semakin mudah diakses. Kemudian peran media sosial yang menyebar konten dalam hitungan detik saja.

 

 

Deepfake juga memiliki sisi dampak positif diantaranya :

·         Bidang Hiburan dan Seni, yakni bisa  membantu pembuat film mengubah usia aktor secara digital. Menghidupkan kembali tokoh atau aktor di layar kaca. Mempermudah sinkronisasi bibir dan suara pada sulih suara film asing.

·         Bidang Pendidikan, dapat membuat avatar tokoh sejarah untuk mengajar siswa di kelas. Membantu simulasi percakapan bahasa asing secara interaktif. Menyajikan eksperimen sains yang sulit secara visual.

·         Bidang Bisnis dan Pemasaran, seperti Membuat iklan yang dipersonalisasi untuk target pasar berbeda. Menurunkan biaya produksi video promosi global. Meningkatkan pengalaman pelanggan lewat asisten virtual yang alami.

 

Namun, Deepfake membawa risiko besar seperti penipuan digital, kerusakan reputasi, manipulasi politik, dan hilangnya kepercayaan publik. Teknologi ini memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memalsukan wajah serta suara seseorang secara sangat meyakinkan, seperti :

·         Penipuan Digital dan Keuangan, yakni pemalsuan suara CEO atau pimpinan perusahaan untuk mencairkan dana. Video palsu pejabat untuk menipu masyarakat lewat investasi bodong. Akses ilegal ke akun privat menggunakan biometrik wajah palsu.

·         Penyebaran Hoax dan Kerusakan Reputasi, seperti pembuatan video asusila atau pernyataan palsu figur publik. Pencemaran nama baik individu dalam ranah profesional maupun pribadi. Penyebaran informasi bohong yang viral dan sulit diclearkan.

·         Manipulasi Politik dan Demokrasi, bisa dengan memalsukan video kandidat pemilu ke hal-hal kontroversial. Penurunan kepercayaan pemilih terhadap integritas proses pemilu. Polarisasi sosial akibat disinformasi terarah di media sosial.

·         Lalu, Hilangnya Kepercayaan Publik, dimana runtuhnya kredibilitas media massa dan bukti video digital. Masyarakat menjadi skeptis terhadap semua informasi visual yang asli. Kesulitan membedakan fakta dan rekayasa di ruang digital.

 

Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, fenomena tersebut masuk ke dalam teori Media Kekayaan (Media Richness Theory) yang dikembangkan oleh Daft dan Lengel (1986). Teori ini menjelaskan bahwa efektivitas suatu media komunikasi tergantung pada kemampuannya untuk menyampaikan pesan secara kaya, termasuk emosi, konteks, dan nuansa non-verbal. Pesan singkat dianggap memiliki tingkat kekayaan media yang rendah, sehingga sering kali kurang memadai untuk diskusi yang kompleks atau emosional

 

Selain itu, tren komunikasi ini juga menciptakan budaya baru seperti “ghosting,” di mana seseorang tiba-tiba memutus kontak tanpa penjelasan. Fenomena ini menunjukkan sisi gelap dari kemudahan teknologi yang kadang memengaruhi stabilitas emosional seseorang.

 

Untuk mengatasi hal ini, diperlukan kesadaran untuk menggunakan teknologi secara bijak dan tetap memprioritaskan komunikasi tatap muka ketika memungkinkan. Sehingga hal ini menjadi yang cukup penting juga untuk dipelajari yaitu literasi digital.

 

Misalnya, tidak langsung percaya video viral, selalu mengecek sumber validnya, membandingkan dengan media terpercaya, menggunakan critical thinking dan memahami bahwa AI itu berpotensi memanipulasi visual.

 

Kemajuan teknologi telah memberi manusia kemampuan luar biasa untuk menciptakan sesuatu yang tampak nyata. Namun, di saat yang sama, teknologi juga mengingatkan bahwa kebenaran tidak lagi cukup dinilai hanya dengan apa yang terlihat. Di era deepfake, kemampuan berpikir kritis menjadi sama pentingnya dengan kemampuan mengakses informasi.

 

Masa depan tidak hanya terletak pada semakin canggihnya teknologi, tetapi juga tentang sejauh mana manusia mampu menggunakannya secara bertanggung jawab. Ketika gambar, suara, dan video dapat direkayasa, kejujuran, etika, dan literasi digital menjadi benteng yang menjaga kepercayaan dalam kehidupan masyarakat.