SELO: Mobil Listrik Pertama Karya Anak Bangsa yang Nyaris Terlupakan

Edukasi Jatim | Selasa, 4 Agustus 2026

SURABAYA-Di tengah gencarnya investasi kendaraan listrik dari produsen asing seperti BYD, Hyundai, Wuling, hingga Chery, publik Indonesia perlahan melupakan bahwa lebih dari satu dekade lalu negeri ini pernah memiliki sebuah mobil listrik sport yang mengundang perhatian dunia. Namanya Selo. Mobil berwarna kuning tersebut bukan sekadar prototipe kendaraan ramah lingkungan, melainkan simbol kemampuan rekayasa teknologi Indonesia yang lahir dari tangan insinyur lokal, Ricky Elson, bersama tim Pandawa Putra Petir.

Yang menarik, pengembangan Selo tidak lahir melalui proyek industri nasional bernilai triliunan rupiah ataupun investasi besar pemerintah. Kendaraan tersebut dikembangkan melalui kolaborasi para insinyur Indonesia dengan dukungan swasta dan tokoh nasional, tanpa pendanaan negara dalam skema industri otomotif nasional yang berkelanjutan. (Lipsus)

Ketika Indonesia Mendahului Banyak Negara ASEAN

Mobil listrik Selo pertama kali diperkenalkan kepada publik pada 2013 dan menjadi kendaraan resmi pada KTT APEC Bali 2013. Saat itu sebagian besar negara ASEAN bahkan belum memiliki prototipe kendaraan listrik sport hasil pengembangan domestik.

Secara desain, Selo mengusung konsep supercar dengan motor listrik berdaya tinggi dan menggunakan sistem transmisi yang berbeda dibanding pendahulunya, Tucuxi. Nama "Selo" sendiri diambil dari tokoh legenda Jawa, Ki Ageng Selo, yang dikenal mampu "menangkap petir", sebuah metafora bagi energi listrik sebagai sumber tenaga kendaraan masa depan. (detikoto)

Sayangnya, momentum tersebut tidak berkembang menjadi industri nasional. Pergantian kebijakan pemerintahan, belum siapnya ekosistem kendaraan listrik, keterbatasan investasi lanjutan, serta minimnya dukungan regulasi menyebabkan proyek ini berhenti pada tahap prototipe. (detikfinance)

Mobil Listrik Bukan Sekadar Kendaraan

Keberhasilan sebuah mobil listrik nasional seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah unit yang diproduksi. Di negara-negara maju, kendaraan listrik merupakan pintu masuk menuju industri teknologi tinggi.

Laporan berbagai penelitian menunjukkan bahwa industri kendaraan listrik memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang besar terhadap perekonomian melalui penciptaan rantai pasok baterai, manufaktur komponen, perangkat lunak, elektronika daya, kecerdasan buatan, hingga infrastruktur pengisian daya. (arXiv)

Artinya, apabila proyek seperti Selo memperoleh kesinambungan investasi sejak 2013, Indonesia berpotensi menjadi salah satu pemain utama kendaraan listrik di Asia Tenggara jauh sebelum gelombang investasi asing masuk beberapa tahun terakhir.

Potensi Keuntungan bagi Negara

Apabila Indonesia mampu mengembangkan mobil listrik nasional secara berkelanjutan, terdapat sejumlah manfaat strategis.

Pertama, meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral.

Indonesia merupakan produsen nikel terbesar dunia. Selama ini sebagian besar keuntungan justru dinikmati produsen kendaraan asing yang mengolah nikel menjadi baterai. Kehadiran mobil nasional memungkinkan integrasi industri dari hulu hingga hilir sehingga nilai tambah tetap berada di dalam negeri.

Kedua, mengurangi impor BBM.

Transportasi merupakan salah satu penyumbang konsumsi bahan bakar minyak terbesar di Indonesia. Adopsi kendaraan listrik secara bertahap berpotensi menekan impor minyak sekaligus memperbaiki neraca perdagangan energi.

Ketiga, membuka lapangan kerja baru.

Industri kendaraan listrik membutuhkan tenaga kerja pada sektor manufaktur baterai, motor listrik, elektronika, perangkat lunak, desain industri, pengembangan AI, serta layanan purnajual.

Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa transformasi menuju industri kendaraan listrik menciptakan peluang pekerjaan baru yang bernilai tambah tinggi apabila diiringi peningkatan kompetensi tenaga kerja.

Keempat, meningkatkan kapasitas inovasi nasional.

Keberhasilan mengembangkan kendaraan listrik nasional akan memperkuat ekosistem riset universitas, lembaga penelitian, dan industri sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga produsen teknologi.

Pelajaran dari Selo

Kasus Selo memperlihatkan bahwa tantangan terbesar inovasi di Indonesia sering kali bukan kemampuan teknologinya, melainkan keberlanjutan kebijakan.

Dalam banyak negara, prototipe kendaraan listrik berkembang menjadi industri melalui kombinasi insentif fiskal, investasi riset, perlindungan hak kekayaan intelektual, kemitraan universitas-industri, dan dukungan pemerintah terhadap produksi massal.

Indonesia baru mulai serius membangun ekosistem tersebut setelah 2019 melalui berbagai regulasi kendaraan listrik dan pembangunan industri baterai. Ironisnya, langkah tersebut hadir ketika sebagian besar inovator lokal generasi awal telah kehilangan momentum.

Momentum Baru

Masuknya investasi perusahaan global memang mempercepat pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia. Namun keberadaan merek asing seharusnya tidak menutup peluang lahirnya kendaraan nasional.

Pengalaman Jepang, Korea Selatan, hingga Tiongkok menunjukkan bahwa industri otomotif nasional tumbuh karena keberanian mendukung inovator domestik dalam jangka panjang.

Selo membuktikan bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki modal sumber daya manusia. Tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi tidak berhenti sebagai prototipe yang dikenang dalam museum teknologi, melainkan berkembang menjadi industri yang menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekspor, memperkuat kemandirian energi, serta memberikan nilai tambah ekonomi nasional.

Di era transisi energi global, pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah Indonesia mampu membuat mobil listrik. Pertanyaannya adalah apakah Indonesia siap menjadikan karya anak bangsa sebagai fondasi industri masa depan.

(~CAL)

Referensi:

  1. Elson, R. (2021). Cerita Ricky Elson Kembangkan Mobil Listrik Pertama di Indonesia. Kompas.com. (Lipsus)

  2. DetikOto. (2015). Kiprah Mobil Listrik Selo, Dari Desain Sampai Didekati Malaysia. (detikoto)

  3. DetikFinance. (2016). Ini Daftar Mobil Listrik yang Pernah Dibuat Putra-Putri Indonesia. (detikfinance)

  4. SINDOnews. (2021). Selo Karya Ricky Elson Jadi Pelopor Industri Mobil Listrik Indonesia. (Sindonews Otomotif)

  5. Amilia, N., Palinrungi, Z., Vanany, I., & Arief, M. (2022). Designing an Optimized Electric Vehicle Charging Station Infrastructure for Urban Area: A Case Study from Indonesia. arXiv. (arXiv)

  6. Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. Roadmap Pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB).

  7. International Energy Agency (IEA). (2025). Global EV Outlook.

  8. International Council on Clean Transportation (ICCT). (2024). Electric Vehicle Transition and Industrial Competitiveness.