Mitigasi Perubahan Iklim Menjadi Kunci Menyelamatkan Pertanian Jawa Timur

Edukasi Jatim | Selasa, 4 Agustus 2026

SURABAYA-Perubahan iklim telah menjadi tantangan utama bagi sektor pertanian di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Kenaikan suhu udara, perubahan pola curah hujan, meningkatnya frekuensi kekeringan, banjir, serta serangan organisme pengganggu tanaman menyebabkan penurunan produktivitas pertanian dan meningkatnya risiko kerugian ekonomi petani. Artikel ini mengulas berbagai strategi mitigasi perubahan iklim yang dapat diterapkan pada sektor pertanian Jawa Timur melalui pendekatan berbasis teknologi, konservasi sumber daya alam, serta penguatan kebijakan pemerintah. Kajian disusun menggunakan metode studi literatur dari publikasi ilmiah, laporan pemerintah, dan organisasi internasional.

Ancaman Nyata bagi Lumbung Pangan Nasional

Jawa Timur selama beberapa dekade dikenal sebagai salah satu provinsi penyumbang utama produksi padi, jagung, tebu, kedelai, hortikultura, hingga peternakan di Indonesia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, produktivitas pertanian semakin dipengaruhi oleh perubahan iklim yang menyebabkan ketidakpastian musim tanam.

Fenomena El Niño dan La Niña yang semakin ekstrem membuat kalender tanam tradisional sulit diprediksi. Pada musim kemarau panjang, banyak lahan sawah mengalami kekeringan, sedangkan saat curah hujan tinggi petani justru menghadapi banjir, longsor, hingga ledakan hama dan penyakit tanaman. BMKG menegaskan bahwa perubahan pola suhu dan curah hujan di Indonesia diproyeksikan terus berlangsung sehingga sektor pertanian harus memperkuat strategi adaptasi dan mitigasi sejak dini. (Sistem Manajemen Pengetahuan BMKG)

Kajian pemodelan menggunakan AquaCrop FAO terhadap Pulau Jawa menunjukkan bahwa perubahan iklim berpotensi menurunkan produktivitas padi pada berbagai wilayah apabila tidak diimbangi strategi adaptasi yang memadai. (Jurnal Widya Climago)

Jawa Timur Menghadapi Risiko Berlapis

Wilayah pertanian di Kabupaten Ngawi, Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Jember, Banyuwangi, Probolinggo, Malang hingga Madura menghadapi karakter ancaman yang berbeda-beda. Daerah utara Jawa Timur lebih rentan terhadap kekeringan akibat curah hujan yang semakin pendek, sedangkan wilayah selatan menghadapi ancaman hujan ekstrem yang meningkatkan risiko erosi dan longsor. Perubahan suhu juga mempercepat perkembangan organisme pengganggu tanaman seperti wereng, penggerek batang, ulat grayak, serta penyakit jamur. Selain menurunkan hasil panen, kondisi tersebut meningkatkan biaya produksi karena petani harus menggunakan lebih banyak air irigasi, pestisida, maupun pupuk.

Mitigasi Bukan Sekadar Menanam Pohon

Mitigasi dalam sektor pertanian berarti mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus meningkatkan kemampuan lahan menyerap karbon tanpa mengurangi produktivitas pangan.

IPCC AR6 menyatakan bahwa sistem pangan global menyumbang sekitar sepertiga emisi gas rumah kaca dunia sehingga transformasi sistem pertanian menjadi lebih berkelanjutan merupakan bagian penting dari upaya pengendalian perubahan iklim.

Di Jawa Timur, langkah mitigasi dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan.

1. Pertanian Cerdas Iklim (Climate Smart Agriculture)

Pendekatan ini mengombinasikan peningkatan produktivitas, ketahanan terhadap perubahan iklim, dan pengurangan emisi karbon.

Implementasinya meliputi:

  • penggunaan varietas tahan kekeringan dan genangan;

  • penyesuaian kalender tanam berbasis prediksi BMKG;

  • rotasi tanaman;

  • penggunaan pupuk organik;

  • efisiensi penggunaan air.

FAO menyebut pendekatan ini mampu menjaga produktivitas pertanian sekaligus mengurangi risiko gagal panen pada wilayah yang rentan terhadap perubahan iklim. (FAOHome)

2. Penguatan Sistem Informasi Iklim

Informasi prakiraan musim menjadi komponen penting dalam pengambilan keputusan petani.

BMKG telah mengembangkan berbagai layanan prediksi musim yang dapat digunakan pemerintah daerah maupun penyuluh pertanian untuk menentukan waktu tanam yang lebih tepat sehingga risiko gagal panen dapat ditekan. (Sistem Manajemen Pengetahuan BMKG)

3. Konservasi Air

Krisis air diproyeksikan menjadi persoalan utama pertanian Jawa Timur dalam beberapa dekade mendatang.

Mitigasi dilakukan melalui:

  • embung desa;

  • irigasi tetes;

  • pompanisasi;

  • pemanenan air hujan;

  • rehabilitasi daerah tangkapan air;

  • efisiensi distribusi irigasi.

Pengelolaan sumber daya air menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan di tengah perubahan iklim. (Jurnal Meteorologi dan Geofisika)

4. Pengurangan Emisi Pertanian

Sektor pertanian menghasilkan emisi terutama dari:

  • sawah;

  • peternakan;

  • penggunaan pupuk nitrogen;

  • pembakaran limbah pertanian.

Mitigasi dilakukan melalui:

  • pengelolaan air berselang (Alternate Wetting and Drying/AWD);

  • pengomposan limbah;

  • biogas peternakan;

  • pemanfaatan jerami sebagai pupuk organik;

  • pengurangan pembakaran lahan.

Praktik-praktik tersebut terbukti mampu menurunkan emisi metana dan dinitrogen oksida tanpa mengurangi hasil panen. (BBPP Binuang)

5. Digitalisasi Pertanian

Pemanfaatan Internet of Things (IoT), sensor kelembapan tanah, drone pemantau tanaman, citra satelit, hingga kecerdasan buatan memungkinkan petani melakukan pengelolaan lahan secara lebih presisi.

Teknologi ini membantu menentukan kebutuhan air, pupuk, dan pengendalian hama sehingga penggunaan input menjadi lebih efisien sekaligus menekan emisi karbon.

Peran Pemerintah Daerah

Mitigasi tidak dapat dibebankan kepada petani semata.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten perlu memperkuat:

  • penyediaan informasi iklim;

  • pembangunan infrastruktur irigasi;

  • asuransi usaha tani;

  • peningkatan kapasitas penyuluh;

  • pengembangan varietas unggul adaptif;

  • insentif pertanian rendah karbon;

  • penguatan kelembagaan kelompok tani.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, BMKG, BRIN, dan sektor swasta juga menjadi faktor penting dalam mempercepat inovasi pertanian berkelanjutan.

Pendidikan Menjadi Fondasi Mitigasi

Keberhasilan mitigasi perubahan iklim sangat bergantung pada peningkatan literasi iklim masyarakat.

Petani perlu memahami bahwa perubahan iklim bukan lagi fenomena musiman, melainkan perubahan jangka panjang yang membutuhkan transformasi cara bertani.

Penyuluhan berbasis data iklim, sekolah lapang iklim, serta pelatihan penggunaan teknologi digital akan meningkatkan kemampuan petani dalam mengambil keputusan yang lebih adaptif.

Penelitian pada petani kentang di Jawa Timur menunjukkan bahwa tingkat pendidikan, pengalaman bertani, akses kredit, akses informasi iklim, dan persepsi terhadap perubahan iklim merupakan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan petani dalam menerapkan strategi adaptasi. (E-Publikasi Pertanian)

Mitigasi perubahan iklim merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga ketahanan pangan Jawa Timur. Strategi seperti pertanian cerdas iklim, konservasi air, digitalisasi pertanian, pengurangan emisi gas rumah kaca, dan penguatan kelembagaan petani perlu dijalankan secara terpadu. Tanpa upaya mitigasi yang sistematis, perubahan iklim diperkirakan akan semakin menurunkan produktivitas pertanian, meningkatkan risiko gagal panen, serta mengancam kesejahteraan jutaan petani di Jawa Timur. Sebaliknya, jika berbagai strategi tersebut diimplementasikan secara konsisten dengan dukungan kebijakan berbasis sains, Jawa Timur berpeluang mempertahankan perannya sebagai salah satu pusat produksi pangan nasional sekaligus menjadi contoh pembangunan pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim.

(~CAL)

Referensi:

  1. Anggraini, D. P., Fahriyah, & Asmara, R. (2024). Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Keputusan Penerapan Strategi Adaptasi Perubahan Iklim oleh Petani Kentang di Jawa Timur. Analisis Kebijakan Pertanian, 22(2), 123–132. (E-Publikasi Pertanian)

  2. BMKG. (2024). Climate Outlook 2024. (BMKG Content)

  3. BMKG. (2024). Proyeksi Perubahan Iklim Indonesia. (Sistem Manajemen Pengetahuan BMKG)

  4. FAO. (2018). Indonesian Farmers Gear Up to Face the Challenges of Climate Change. (FAOHome)

  5. IPCC. (2023). Climate Change 2023: Synthesis Report. Geneva: Intergovernmental Panel on Climate Change.

  6. Nazarudin, L. (2025). Dampak Perubahan Iklim terhadap Produktivitas Padi di Pulau Jawa di Masa Mendatang. Jurnal Widya Climago. (Jurnal Widya Climago)

  7. Subagyono, K., & Surmaini, E. (2013). Pengelolaan Sumberdaya Iklim dan Air untuk Antisipasi Perubahan Iklim. Jurnal Meteorologi dan Geofisika. (Jurnal Meteorologi dan Geofisika)

  8. Kementerian Pertanian RI. (2024). Pertanian yang Adaptif terhadap Perubahan Iklim. (BBPP Binuang)