Dampak Perubahan Iklim terhadap Sektor Pertanian: Ancaman bagi Ketahanan Pangan dan Strategi Adaptasi Berkelanjutan
Edukasi Jatim | Selasa, 4 Agustus 2026
Perubahan Iklim Tak Lagi Sekadar Ancaman Masa Depan
SURABAYA – Perubahan iklim kini bukan lagi isu lingkungan yang hanya dibahas dalam forum internasional. Dampaknya telah dirasakan langsung oleh jutaan petani di Indonesia. Pergeseran musim tanam, meningkatnya suhu udara, curah hujan yang tidak menentu, hingga semakin seringnya banjir dan kekeringan menjadi tantangan nyata yang mengancam produktivitas pertanian nasional.
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim karena hampir seluruh aktivitas budidaya bergantung pada kondisi cuaca. Kenaikan suhu rata-rata bumi sebesar sekitar 1,1°C dibandingkan era praindustri telah mengubah pola hidrologi global sehingga meningkatkan frekuensi kejadian cuaca ekstrem. Kondisi tersebut diperkirakan akan semakin memburuk apabila emisi gas rumah kaca tidak segera ditekan. (FAOHome)
Indonesia sebagai negara agraris menghadapi risiko yang lebih besar. Sebagian besar lahan pertanian masih mengandalkan air hujan sehingga perubahan distribusi curah hujan secara langsung memengaruhi waktu tanam, pertumbuhan tanaman, hingga hasil panen.
Produktivitas Pertanian Mulai Menurun
Salah satu dampak paling nyata dari perubahan iklim adalah penurunan produktivitas tanaman pangan. Peningkatan suhu menyebabkan proses fotosintesis tidak berlangsung optimal, mempercepat respirasi tanaman, memperpendek fase pengisian bulir, dan akhirnya menurunkan hasil panen.
Penelitian terbaru menggunakan data Indonesia periode 1983–2019 menunjukkan bahwa peningkatan jumlah hari dengan suhu maksimum di atas 30°C memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap output pertanian dalam jangka pendek. Setiap peningkatan kejadian suhu ekstrem menurunkan produksi pertanian nasional sehingga diperlukan strategi adaptasi berbasis teknologi dan manajemen risiko. (Agris FAO)
Studi lain mengenai produksi padi Indonesia periode 2005–2024 juga menemukan bahwa kenaikan suhu berpengaruh negatif secara signifikan terhadap produksi beras nasional, sedangkan luas lahan sawah tetap menjadi faktor utama yang meningkatkan produksi. (Agris FAO)
Di Pulau Jawa, simulasi menggunakan model AquaCrop FAO memperlihatkan bahwa perubahan iklim diproyeksikan menurunkan produktivitas padi pada berbagai skenario emisi akibat meningkatnya suhu dan perubahan distribusi curah hujan. (ejournal-pusdiklat.bmkg.go.id)
Cuaca Ekstrem Mengganggu Kalender Tanam
Perubahan iklim juga mengubah pola musim yang selama puluhan tahun menjadi acuan petani.
Musim hujan datang lebih lambat atau justru lebih panjang dari biasanya. Akibatnya, kalender tanam menjadi sulit diprediksi. Tidak sedikit petani mengalami gagal tanam karena benih ditanam pada saat curah hujan belum mencukupi atau justru terendam banjir ketika memasuki fase vegetatif.
Fenomena El Niño memperpanjang musim kemarau sehingga memicu kekeringan di berbagai sentra produksi pangan. Sebaliknya, La Niña meningkatkan intensitas hujan yang berpotensi menyebabkan banjir dan genangan pada lahan pertanian.
Kajian Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi menunjukkan bahwa kejadian banjir dan kekeringan merupakan dampak dominan perubahan iklim terhadap pertanian tanaman pangan di Indonesia, dan frekuensinya diproyeksikan meningkat pada masa mendatang. (E-Publikasi Pertanian)
Serangan Hama dan Penyakit Semakin Tinggi
Perubahan suhu dan kelembapan turut memengaruhi dinamika organisme pengganggu tanaman.
Peningkatan suhu mempercepat siklus hidup serangga sehingga populasi hama berkembang lebih cepat. Kondisi cuaca yang lembap juga meningkatkan penyebaran penyakit tanaman akibat jamur maupun bakteri.
Akibatnya, penggunaan pestisida menjadi lebih tinggi sehingga meningkatkan biaya produksi petani sekaligus memperbesar risiko pencemaran lingkungan.
Selain itu, perubahan iklim menyebabkan distribusi hama bergeser ke wilayah yang sebelumnya relatif aman, termasuk dataran tinggi yang selama ini menjadi sentra hortikultura.
Dampak Ekonomi bagi Petani
Kerugian akibat perubahan iklim tidak hanya berupa penurunan hasil panen, tetapi juga meningkatnya biaya produksi.
Petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk irigasi, pompa air, benih tahan kekeringan, pestisida, hingga pupuk. Ketidakpastian produksi juga menyebabkan pendapatan rumah tangga petani menjadi semakin fluktuatif.
Dalam skala nasional, penurunan produksi pangan berpotensi meningkatkan harga komoditas pertanian sehingga memicu inflasi pangan. Kondisi tersebut pada akhirnya berdampak pada daya beli masyarakat serta ketahanan pangan nasional.
Ancaman terhadap Ketahanan Pangan
Pertanian merupakan fondasi utama ketahanan pangan Indonesia.
Ketika produktivitas pertanian menurun, pasokan pangan menjadi terbatas. Di sisi lain, jumlah penduduk Indonesia terus meningkat sehingga kebutuhan pangan setiap tahun juga bertambah.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menegaskan bahwa perubahan iklim dan meningkatnya intensitas bencana menjadi ancaman utama bagi sistem pangan global. Gangguan produksi tidak hanya terjadi di tingkat lahan, tetapi juga pada distribusi, infrastruktur, rantai pasok, dan stabilitas ekonomi pedesaan. (FAOHome)
Climate Smart Agriculture Menjadi Solusi
Menghadapi kondisi tersebut, berbagai negara mulai menerapkan konsep Climate Smart Agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim.
Pendekatan ini bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan, memperkuat ketahanan petani terhadap perubahan iklim, sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca.
Implementasi CSA meliputi:
penggunaan varietas tahan kekeringan dan tahan genangan;
sistem irigasi hemat air;
pemanfaatan teknologi digital untuk prediksi cuaca;
pertanian presisi berbasis sensor IoT;
diversifikasi tanaman;
konservasi tanah dan air;
agroforestri; serta
pemanfaatan pupuk organik untuk meningkatkan kesehatan tanah.
Kesimpulan
Perubahan iklim telah menjadi tantangan terbesar sektor pertanian abad ke-21. Dampaknya tidak hanya berupa penurunan produktivitas tanaman, tetapi juga meningkatnya risiko gagal panen, serangan hama, biaya produksi, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan nasional.
Oleh karena itu, adaptasi tidak lagi dapat ditunda. Pemerintah perlu memperkuat sistem informasi iklim, memperluas pembangunan irigasi, meningkatkan penelitian varietas tahan iklim ekstrem, serta mendorong transformasi menuju Climate Smart Agriculture. Di sisi lain, petani memerlukan akses terhadap teknologi, pembiayaan, penyuluhan, dan asuransi pertanian agar mampu menghadapi ketidakpastian iklim yang semakin besar.
Keberhasilan sektor pertanian Indonesia pada masa depan tidak hanya ditentukan oleh kesuburan tanah, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan beradaptasi terhadap perubahan iklim yang terus berlangsung.
(~CAL)
Referensi:
Food and Agriculture Organization (FAO). (2025). The Impact of Disasters on Agriculture and Food Security. Rome: FAO. (FAOHome)
IPCC. (2023). AR6 Synthesis Report: Climate Change 2023. Geneva: Intergovernmental Panel on Climate Change.
Nazarudin, L. (2025). Dampak Perubahan Iklim terhadap Produktivitas Padi di Pulau Jawa di Masa Mendatang. Jurnal Widya Climago. (ejournal-pusdiklat.bmkg.go.id)
Samir, S., Baja, S., Utami, R., & Walyandra, Z. Z. (2025). Climate Shocks and Agricultural Output Dynamics in Indonesia. (Agris FAO)
Banurea, S. V., Sari, C. P. M., Asnawi, & Usman, U. (2025). Analisis Dampak Perubahan Iklim dan Luas Lahan terhadap Jumlah Produksi Padi di Indonesia. (Agris FAO)
Mariyanto, J. (2025). Krisis Global dan Implikasinya bagi Pertanian Indonesia: Perubahan Iklim, Konflik Geopolitik, dan Spekulasi Pasar. Jurnal Perencanaan Pembangunan Pertanian. (E-Publikasi Pertanian)
Surmaini, E., & Faqih, A. (2016). Kejadian Iklim Ekstrem dan Dampaknya terhadap Pertanian Tanaman Pangan di Indonesia. Jurnal Sumberdaya Lahan. (E-Publikasi Pertanian)
FAO. (2024). The State of Food Security and Nutrition in the World 2024.
World Bank. (2023). Indonesia Climate and Development Report. (Asian Publisher)
Komentar Pembaca