Deep Learning Masuk Sekolah, Mampukah Menjadi Solusi Krisis Literasi Indonesia?

Edukasi Jatim | Minggu, 26 Juli 2026

SURABAYA – Pemerintah resmi menerapkan pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam sebagai bagian dari kegiatan belajar mengajar pada tahun ajaran 2025/2026. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 13 Tahun 2025 yang mengintegrasikan pendekatan pembelajaran mendalam bersama mata pelajaran Coding dan Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/AI) sebagai bagian dari penguatan kompetensi abad ke-21.

Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Laksmi Dewi, mengatakan pendekatan ini tidak menggantikan Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka. Sebaliknya, deep learning menjadi pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan pada kedua kurikulum tersebut dengan penyesuaian karakteristik sekolah, termasuk sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

"Kami berharap model ini dapat meningkatkan hasil belajar sekaligus kompetensi siswa, terutama kemampuan literasi dan numerasi," ujar Laksmi Dewi dalam sosialisasi implementasi pembelajaran mendalam di Jakarta, Juli 2025.

Pemerintah menilai pendekatan tersebut menjadi salah satu strategi menjawab persoalan klasik pendidikan Indonesia, yakni rendahnya kemampuan membaca, memahami informasi, serta berpikir kritis yang selama beberapa tahun terakhir tercermin dalam berbagai asesmen internasional. Selama bertahun-tahun, kritik terhadap pendidikan Indonesia hampir selalu bermuara pada persoalan yang sama: proses belajar masih didominasi hafalan, bukan pemahaman.

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan kemampuan membaca peserta didik Indonesia masih berada jauh di bawah rata-rata negara OECD. Skor literasi membaca Indonesia berada pada kisaran 359 poin, sedangkan rata-rata OECD mencapai sekitar 476 poin. Kondisi serupa juga terjadi pada kemampuan matematika dan sains (OECD, 2023).

World Bank (2024) masih menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang menghadapi learning poverty, yakni kondisi ketika anak berusia 10 tahun belum mampu membaca dan memahami teks sederhana sesuai usianya. Dalam konteks tersebut, pemerintah memandang pendekatan deep learning bukan sekadar metode mengajar baru, melainkan perubahan paradigma pembelajaran. Alih-alih mengejar banyaknya materi yang selesai diajarkan, pendekatan ini mendorong siswa memahami konsep secara mendalam, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, serta mampu memecahkan persoalan melalui berpikir kritis.

Konsep tersebut sebenarnya telah lama berkembang dalam teori konstruktivisme yang dikemukakan oleh Jean Piaget, Lev Vygotsky, hingga diperkuat oleh teori Deep Learning yang diperkenalkan Michael Fullan, Joanne Quinn, dan Joanne McEachen mengenai pengembangan kompetensi global melalui pembelajaran bermakna. 

Dalam implementasinya, Kemendikdasmen menetapkan empat komponen utama sebagai fondasi pembelajaran mendalam. 

Pertama adalah praktik pedagogis, yakni strategi mengajar yang memberikan pengalaman belajar autentik dan berorientasi pada kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS).

Kedua adalah kemitraan pembelajaran, yaitu kolaborasi antara guru, peserta didik, orang tua, komunitas, hingga dunia profesional. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang membangun proses belajar bersama.

Ketiga adalah lingkungan pembelajaran yang memadukan ruang belajar fisik dan digital secara fleksibel sehingga mampu mengakomodasi berbagai gaya belajar siswa.

Terakhir ialah pemanfaatan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan, sebagai alat untuk memperluas sumber belajar, memperkaya pengalaman belajar, serta mendorong kreativitas siswa.

Keempat aspek tersebut selaras dengan rekomendasi UNESCO (2024) yang menekankan bahwa pendidikan masa depan harus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, komunikasi, serta literasi digital sebagai kompetensi utama abad ke-21. Penerapan pembelajaran mendalam juga diikuti masuknya mata pelajaran Coding dan Artificial Intelligence sebagai mata pelajaran pilihan mulai kelas V SD hingga kelas XII SMA. Langkah tersebut dinilai sebagai respons terhadap perubahan kebutuhan dunia kerja yang semakin didominasi teknologi digital.

World Economic Forum Future of Jobs Report 2025 memperkirakan bahwa dalam lima tahun mendatang keterampilan yang paling dibutuhkan dunia kerja meliputi AI, data analytics, digital literacy, problem solving, dan creative thinking. Artinya, sekolah tidak lagi cukup hanya mengajarkan pengetahuan akademik, tetapi juga harus menyiapkan peserta didik menghadapi transformasi ekonomi digital. Meski demikian, sejumlah pakar pendidikan mengingatkan bahwa keberhasilan integrasi AI dan Coding sangat bergantung pada kesiapan sekolah.

Masih banyak sekolah, terutama di wilayah 3T, yang menghadapi keterbatasan akses internet, perangkat komputer, bahkan kekurangan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi digital.

Badan Pusat Statistik (2024) menunjukkan bahwa kesenjangan akses teknologi pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan masih cukup tinggi, sehingga implementasi kebijakan nasional memerlukan pendekatan yang lebih adaptif.

Di balik optimisme pemerintah, keberhasilan pembelajaran mendalam sesungguhnya bergantung pada kualitas guru. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti sebelumnya menegaskan bahwa pendekatan deep learning tidak mengganti kurikulum nasional. Guru akan memperoleh pelatihan bertahap sebelum metode tersebut diterapkan secara luas. Persoalannya, transformasi pedagogi tidak dapat dicapai hanya melalui sosialisasi singkat. Guru dituntut mampu mengubah paradigma mengajar dari sekadar menyampaikan materi menjadi membangun pengalaman belajar yang aktif, reflektif, dan kolaboratif.

Darling-Hammond dkk. (2024) menunjukkan bahwa reformasi pembelajaran hanya berhasil apabila guru memperoleh pengembangan profesional secara berkelanjutan, didukung komunitas belajar, supervisi akademik, serta evaluasi implementasi yang konsisten.

Tanpa investasi besar terhadap peningkatan kapasitas guru, pendekatan pembelajaran mendalam berpotensi berubah hanya menjadi perubahan istilah tanpa perubahan praktik di ruang kelas. Dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan Indonesia telah mengalami berbagai perubahan kebijakan mulai dari Kurikulum Berbasis Kompetensi, KTSP, Kurikulum 2013, Merdeka Belajar, hingga kini pembelajaran mendalam.

Pergantian kebijakan memang diperlukan mengikuti perkembangan zaman. Namun perubahan nomenklatur tidak selalu menghasilkan perubahan kualitas pembelajaran apabila tidak diikuti kesiapan sumber daya manusia, infrastruktur, sistem evaluasi, dan budaya belajar. Deep learning menawarkan paradigma yang lebih relevan dengan kebutuhan abad ke-21 karena menempatkan peserta didik sebagai pembelajar aktif, bukan sekadar penerima informasi. Namun keberhasilannya akan ditentukan oleh konsistensi implementasi di sekolah, pemerataan kualitas guru, kesiapan infrastruktur digital, serta keberanian pemerintah melakukan evaluasi berbasis bukti.

Jika seluruh prasyarat tersebut mampu dipenuhi, pendekatan pembelajaran mendalam berpotensi menjadi titik balik peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Sebaliknya, tanpa dukungan sistem yang memadai, deep learning hanya akan menjadi istilah baru dalam dokumen kebijakan tanpa membawa perubahan nyata terhadap kemampuan literasi dan kompetensi peserta didik.

(~CAL)

Referensi:

  1. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2025). Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah.

  2. OECD. (2023). PISA 2022 Results (Volume I): The State of Learning and Equity in Education. Paris: OECD Publishing.

  3. UNESCO. (2024). Global Education Monitoring Report 2024/2025: Leadership in Education.

  4. World Bank. (2024). Indonesia Economic Prospects: Investing in Human Capital for Sustainable Growth.

  5. World Bank. (2024). Learning Poverty Update.

  6. World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025.

  7. Darling-Hammond, L., Hyler, M. E., & Gardner, M. (2024). Effective Teacher Professional Development: Research Update. Learning Policy Institute.

  8. Fullan, M., Quinn, J., & McEachen, J. (2018). Deep Learning: Engage the World Change the World. Corwin Press.

  9. Piaget, J. (1972). The Psychology of the Child. Basic Books.

  10. Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Harvard University Press.

  11. Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Pendidikan Indonesia 2024