Ketika Sekolah Mengajarkan Keseragaman

Edukasi Jatim | Sabtu, 19 Juli 2026

Di ruang kelas, murid belajar menjawab soal. Namun, apakah mereka juga belajar menjadi dirinya sendiri?

SURABAYA – Guru itu berdiri di depan kelas sambil menggambar sebuah pohon di papan tulis. "Seperti ini," katanya. Murid-murid pun menyalin gambar itu ke buku gambar masing-masing. Batangnya coklat, daunnya hijau, langit biru, matahari di pojok kanan atas. Hampir seluruh gambar tampak serupa. Di bangku paling belakang, seorang anak menggambar sesuatu yang berbeda. Pohonnya berwarna ungu, rantingnya menyerupai antena, sementara di atasnya melayang benda-benda yang tampak seperti pesawat luar angkasa. Ketika guru memeriksa hasil pekerjaannya, anak itu diminta mengulang gambar karena dianggap tidak sesuai contoh.

Peristiwa seperti itu mungkin terjadi setiap hari di ruang-ruang kelas Indonesia. Bukan karena guru ingin mematikan kreativitas murid, melainkan karena sistem pembelajaran sejak lama terbiasa menghargai kesamaan dibanding keberagaman gagasan. Ironisnya, ketika dunia memasuki era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), justru kemampuan berpikir kreatif menjadi kompetensi yang paling dibutuhkan.

Sir Ken Robinson, pakar pendidikan asal Inggris, menilai sekolah masih terlalu berfokus pada pencarian satu jawaban yang dianggap benar. Menurut dia, pendekatan semacam itu tidak sepenuhnya mencerminkan kehidupan nyata yang sarat dengan berbagai kemungkinan dan cara pandang. Dalam kuliah terkenalnya Do Schools Kill Creativity?, Robinson mengatakan setiap anak lahir dengan kemampuan untuk berpikir kreatif. Namun, sistem pendidikan sering kali membuat potensi tersebut memudar karena anak dibiasakan takut melakukan kesalahan.

"Bila peserta didik tidak diberi ruang untuk mencoba dan gagal, mereka akan kehilangan keberanian untuk melahirkan gagasan yang orisinal," ujar Robinson.

Ia menegaskan bahwa kesalahan seharusnya tidak selalu dipandang sebagai kegagalan dalam proses belajar. Sebaliknya, keberanian untuk mencoba sesuatu yang berbeda merupakan bagian penting dari tumbuhnya kreativitas dan inovasi. Bagi Robinson, sekolah semestinya tidak hanya mengajarkan cara menemukan jawaban yang benar, tetapi juga mendorong peserta didik untuk bertanya, mengeksplorasi berbagai kemungkinan, dan mengembangkan ide-ide baru yang lahir dari imajinasi mereka sendiri. Pandangan Robinson yang disampaikan hampir dua dekade lalu justru terasa semakin relevan hari ini.

Di banyak sekolah, ukuran keberhasilan masih didominasi angka. Nilai ujian, peringkat kelas, hingga skor asesmen menjadi tolok ukur utama. Murid yang mampu mengikuti pola dianggap berhasil, sedangkan mereka yang berpikir berbeda kerap dipandang menyimpang dari standar. Padahal, Ki Hadjar Dewantara telah lama mengingatkan bahwa setiap anak memiliki kodrat yang berbeda.

"Anak-anak hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kodrat itu."

Bagi pendiri Taman Siswa itu, pendidikan bukanlah proses mencetak manusia dengan bentuk yang sama, melainkan membantu setiap anak menemukan jalan hidupnya. Namun dalam praktiknya, sistem pendidikan modern sering kali lebih mudah mengelola keseragaman daripada keberagaman. Satu kurikulum, satu metode, satu bentuk evaluasi, dan satu ukuran keberhasilan diterapkan kepada jutaan peserta didik yang sesungguhnya memiliki latar belakang, minat, serta kemampuan yang berbeda. 

Perubahan dunia kerja berlangsung jauh lebih cepat dibanding perubahan ruang kelas. Laporan World Economic Forum tahun 2025 menempatkan creative thinking, analytical thinking, resilience, curiosity, dan lifelong learning sebagai keterampilan yang paling dibutuhkan perusahaan dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang. Sementara pekerjaan yang hanya mengandalkan prosedur berulang semakin banyak digantikan oleh otomatisasi dan kecerdasan buatan.

Pesan serupa muncul dalam laporan OECD PISA Creative Thinking 2022 yang dipublikasikan pada 2024. Organisasi itu menegaskan bahwa sekolah tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang mampu menghafal informasi. Murid juga harus mampu menghasilkan gagasan baru, memecahkan persoalan yang belum pernah ditemui, serta melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Artinya, sekolah kini tidak lagi cukup mengajarkan "jawaban yang benar", tetapi juga perlu mengembangkan kemampuan bertanya, bereksperimen, dan berimajinasi.

Psikolog pendidikan dari Harvard University, Howard Gardner, melalui teori Multiple Intelligences, menjelaskan bahwa kecerdasan manusia memiliki banyak bentuk. Ada anak yang unggul dalam bahasa, ada yang menonjol dalam seni, musik, olahraga, kepemimpinan, hingga kemampuan memahami orang lain. Sayangnya, budaya pendidikan masih cenderung memberi penghargaan lebih besar pada kecerdasan akademik. Akibatnya, anak yang mahir melukis tetapi kesulitan matematika sering merasa dirinya kurang pintar. Sebaliknya, siswa yang piawai memimpin organisasi belum tentu memperoleh apresiasi yang sama seperti mereka yang selalu memperoleh nilai sempurna. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Thinking Skills and Creativity sepanjang 2024–2026 menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek, eksplorasi, dan kolaborasi mampu meningkatkan kreativitas sekaligus kepercayaan diri peserta didik. Lingkungan belajar yang menghargai perbedaan juga terbukti memperkuat motivasi intrinsik siswa.

Menyalahkan guru semata tentu bukan jawaban.

Banyak guru justru berada dalam tekanan administrasi, target kurikulum, dan tuntutan capaian akademik. Mereka dituntut menuntaskan materi, mengejar target asesmen, sekaligus memenuhi berbagai kewajiban administratif. Profesor pendidikan dari Stanford University, Linda Darling-Hammond, menilai pembelajaran terbaik lahir ketika guru memiliki keleluasaan membangun pengalaman belajar yang bermakna. Linda Darling-Hammond mengungkapkan bahwa pendidikan yang efektif bukanlah pendidikan yang membuat seluruh siswa memberikan jawaban sama, tetapi pendidikan yang memberi kesempatan kepada setiap peserta didik untuk berpikir, bertanya, berdiskusi, dan menciptakan solusi.

Semangat Kurikulum Merdeka sebenarnya membawa harapan baru. Pembelajaran berdiferensiasi, proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila, serta asesmen formatif dirancang agar peserta didik memiliki ruang lebih luas untuk berkembang sesuai potensinya. Namun berbagai penelitian terbaru menunjukkan implementasinya masih menghadapi tantangan. Tidak semua sekolah memiliki sumber daya yang memadai. Tidak semua guru memperoleh pelatihan yang cukup. Budaya pendidikan yang selama puluhan tahun berorientasi pada nilai juga tidak mudah berubah dalam waktu singkat.

Filsuf pendidikan Brasil Paulo Freire pernah menulis bahwa pendidikan sejatinya merupakan praktik pembebasan, bukan praktik penyeragaman. Pandangan itu sejalan dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yang "memanusiakan manusia". Di tengah derasnya perkembangan teknologi, barangkali tantangan terbesar pendidikan Indonesia bukan lagi bagaimana membuat semua murid memiliki jawaban yang sama. Melainkan bagaimana memastikan setiap anak berani mengatakan, "Saya berbeda, dan perbedaan itu bukan kesalahan.".  Karena pada akhirnya, bangsa tidak dibangun oleh generasi yang seluruhnya berpikir seragam. Bangsa maju lahir dari orang-orang yang berani melihat dunia dengan cara yang berbeda.

(~cal)

Referensi: 

  1. OECD. (2024). PISA 2022 Results Volume III: Creative Minds, Creative Schools.

  2. UNESCO. (2024). Global Education Monitoring Report 2024/2025.

  3. UNESCO. (2021). Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education.

  4. World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025.

  5. CAST. (2024). Universal Design for Learning (UDL) Guidelines 3.0.

  6. Darling-Hammond, L. (2024). Deeper Learning: Research and Practice.

  7. Thinking Skills and Creativity. Elsevier. Volumes 2024–2026.

  8. Teaching and Teacher Education. Elsevier. Volumes 2024–2026.

  9. Gardner, H. (2021). Multiple Intelligences: New Horizons.

  10. Robinson, K. (2021). Creative Schools; TED Talk Do Schools Kill Creativity?

  11. Freire, P. (2020 Edition). Pedagogy of the Oppressed.

  12. Dewantara, K. H. Berbagai kumpulan pemikiran tentang pendidikan dalam Bagian Pertama: Pendidikan (edisi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi).