Learning Poverty Mengintai Generasi Digital: Sepertiga Anak Indonesia Usia 10 Tahun Belum Mampu Memahami Cerita Sederhana

Edukasi Jatim | Minggu, 12 Juli 2026

SURABAYA – Di tengah percepatan digitalisasi pendidikan, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan semakin luasnya akses internet di sekolah, Indonesia masih dihadapkan pada persoalan mendasar yang berpotensi menghambat peningkatan kualitas sumber daya manusia. Persoalan tersebut adalah learning poverty atau kemiskinan belajar, yakni kondisi ketika anak berusia sekitar 10 tahun belum mampu membaca sekaligus memahami teks sederhana sesuai dengan tingkat usianya.

Istilah learning poverty diperkenalkan oleh World Bank bersama UNESCO Institute for Statistics (UIS) sebagai indikator kemampuan literasi dasar anak. Seorang anak dikategorikan mengalami learning poverty apabila pada usia sekitar 10 tahun belum mampu memahami isi bacaan sederhana meskipun telah mengikuti pendidikan dasar.

Persoalan ini dinilai jauh lebih serius daripada sekadar rendahnya nilai ujian membaca. Pada usia tersebut, kemampuan membaca menjadi fondasi bagi seluruh proses pembelajaran. Anak yang belum mampu memahami isi bacaan akan mengalami kesulitan mengikuti pelajaran matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, hingga memahami informasi yang diperoleh melalui media digital.

Laporan Indonesia Learning Poverty Brief 2024 yang diterbitkan World Bank dan UNESCO menunjukkan sekitar 35 persen anak Indonesia berusia 10 tahun belum mampu membaca dan memahami teks sederhana sesuai dengan tingkat usianya. Artinya, sekitar satu dari tiga anak Indonesia masih mengalami learning poverty. Hingga pertengahan 2026, angka tersebut masih menjadi rujukan resmi karena belum terdapat pembaruan data nasional dengan metodologi yang sama.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena Indonesia tengah menyiapkan pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Kemampuan membaca sejak sekolah dasar dipandang sebagai prasyarat untuk menguasai sains, teknologi, serta keterampilan digital yang dibutuhkan pada masa depan. Kemampuan membaca tidak lagi diukur dari kelancaran mengeja kata demi kata. Dalam konsep learning poverty, anak dinilai telah memiliki literasi dasar apabila mampu memahami isi bacaan, mengenali tokoh dalam cerita, menjelaskan pesan yang disampaikan penulis, serta menarik kesimpulan dari teks sederhana.

Sebaliknya, anak yang hanya mampu melafalkan tulisan tanpa memahami maknanya tetap dikategorikan mengalami kemiskinan belajar. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan belajar pada jenjang pendidikan berikutnya karena hampir seluruh mata pelajaran bergantung pada keterampilan membaca dengan pemahaman.

Di era digital, kemampuan membaca tidak lagi hanya berkaitan dengan buku pelajaran. Literasi membaca menjadi fondasi utama literasi digital. Anak-anak yang terbiasa menggunakan telepon pintar belum tentu mampu menyaring informasi secara kritis. Tanpa kemampuan memahami bacaan, mereka lebih rentan terpapar hoaks, salah menafsirkan informasi, hingga kesulitan mengikuti pembelajaran berbasis teknologi. Karena itu, para pemerhati pendidikan menilai transformasi digital di sekolah tidak akan memberikan dampak optimal apabila kemampuan literasi dasar peserta didik belum diperkuat. Perangkat komputer, internet, maupun platform pembelajaran hanyalah sarana, sedangkan kemampuan memahami informasi tetap menjadi inti dari proses belajar.

Sejumlah faktor dinilai masih menjadi penyebab tingginya learning poverty di Indonesia. Di antaranya rendahnya budaya membaca di lingkungan keluarga, kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah, terbatasnya akses terhadap bahan bacaan yang menarik, serta metode pembelajaran yang masih menitikberatkan pada kemampuan mengeja dibanding memahami isi bacaan.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru. Anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar, tetapi tidak seluruh aktivitas digital tersebut berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan literasi. Intensitas penggunaan gawai belum tentu berbanding lurus dengan meningkatnya kemampuan membaca.

Aktivis pendidikan Indra Charismiadji menilai persoalan literasi di Indonesia masih jauh dari ideal. Menurut dia, jika menggunakan ukuran literasi fungsional, kondisi yang dihadapi Indonesia bahkan lebih memprihatinkan dibandingkan indikator learning poverty yang digunakan World Bank.

"Learning poverty kita berada di kisaran 70 persen. Para pemangku kebijakan di bidang pendidikan harus memahami bahwa tugas utama pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Selama lebih dari dua dekade, kualitas pendidikan kita belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Fenomena functional illiteracy atau buta huruf fungsional masih dialami banyak anak pada usia sekitar 10 tahun," kata Indra.

Pernyataan tersebut menggunakan pendekatan yang berbeda dengan indikator learning poverty versi World Bank sehingga angka yang disampaikan tidak dapat dibandingkan secara langsung. Meski demikian, keduanya menunjukkan bahwa kemampuan literasi dasar anak Indonesia masih menjadi tantangan yang memerlukan perhatian serius.

Sejumlah pakar pendidikan mendorong penguatan literasi sejak pendidikan anak usia dini hingga sekolah dasar. Guru diharapkan menerapkan pembelajaran membaca yang berorientasi pada pemahaman, sementara orang tua membangun budaya membaca melalui kegiatan membaca bersama di rumah. Pemanfaatan teknologi digital juga dinilai perlu diarahkan untuk mendukung peningkatan literasi, misalnya melalui buku elektronik interaktif, perpustakaan digital, serta aplikasi membaca yang sesuai dengan usia anak.

Learning poverty bukan sekadar angka statistik pendidikan. Di balik data tersebut terdapat jutaan anak yang berisiko tertinggal dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, serta beradaptasi dengan perubahan teknologi. Bagi Indonesia, menekan angka kemiskinan belajar berarti memperkuat fondasi lahirnya generasi yang mampu bersaing pada era ekonomi digital sekaligus mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. (~cal)

Referensi:

  1. World Bank & UNESCO. Indonesia Learning Poverty Brief 2024.

  2. UNICEF. State of the World's Children 2024 – Education Dataset (Learning Poverty Indicator).

  3. World Bank. What is Learning Poverty?

  4. Center for Global Development. Children Who Can Read and Count at Age Ten Earn More Later in Life: New Evidence from Indonesia (2025).