Guru tidak cukup hanya mengandalkan kecakapan intelektual saat mengajar di kelas. Lebih dari itu, seorang pendidik dituntut memiliki kedalaman spiritual sebagai fondasi utama dalam menjalankan pengabdiannya.
Pesan mendalam ini disampaikan oleh Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU), KH Abdullah Syamsul Arifin, saat memberikan tausiyah dalam kegiatan Halaqah Guru Haflatul Imtihan Madrasah Annuqayah (HIMA) 2026. Acara tersebut berlangsung di Auditorium Asy-Syarqawi Universitas Annuqayah, Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, pada Ahad (5/7/2026).
Di hadapan para guru yang hadir, pria yang akrab disapa Gus Aab ini menerangkan bahwa pelaku pendidikan harus mampu membangun sinergi yang kuat antara intelektualitas dan spiritualitas.
“Intelektualitas diperlukan agar guru mampu berpikir kritis, melakukan analisis, serta menemukan solusi terhadap berbagai persoalan pendidikan. Namun, semua itu harus diperkuat dengan spiritualitas yang akan menjaga keikhlasan dan keteguhan dalam berkhidmat,” ujar Gus Aab.
Dua Jenis Ilmu dan Kewajiban Belajar
Dalam pemaparannya, Gus Aab membagi ilmu menjadi dua jenis. Pertama adalah ilmu muktasab (kasbi), yaitu ilmu yang didapatkan melalui ikhtiar lahiriah seperti belajar, membaca, berdiskusi, dan usaha lainnya. Kedua adalah ilmu dharuri atau wahbi, yaitu ilmu yang murni merupakan karunia dari Allah SWT. Salah satu jalan untuk mendapatkan ilmu jenis kedua ini adalah dengan konsisten mengamalkan ilmu yang sudah dimiliki.
Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa seorang guru tidak boleh cepat puas dan berhenti belajar. Menurutnya, semakin tinggi tanggung jawab yang diemban sebagai pendidik, semakin besar pula tuntutan untuk terus memperkaya wawasan serta memperkuat kapasitas keilmuan.
Mengutip pandangan Imam Al-Mawardi dalam Kitab Adabud Dunya Wad Din, Gus Aab menjelaskan bahwa orang yang benar-benar mencapai kedalaman ilmu justru akan menyadari keterbatasan pengetahuannya di hadapan keluasan ilmu Allah SWT.
“Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia menyadari bahwa masih banyak orang yang lebih berilmu darinya. Karena itu, ilmu sejati akan melahirkan sikap tawadhu’ (rendah hati). Adab bahkan berada di atas ilmu,” ungkapnya.
Hakikat Guru dan Tradisi Ta'lim wa Ta'allum
Gus Aab juga mengingatkan bahwa hakikat tugas guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran di kelas. Keberhasilan sejati seorang pendidik diukur dari kemampuannya mengantarkan murid menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Jalan terbaik dalam dunia pendidikan, lanjutnya, adalah menerapkan thariqah ta’lim wa ta’allum, sebuah tradisi saling mengajar dan saling belajar yang terus hidup dalam dunia pendidikan Islam. Ia pun mengajak seluruh guru untuk bersyukur atas amanah mulia ini, karena guru merupakan perantara lahirnya ilmu dan peradaban.
Ragam Peran Kiai di Masyarakat
Di akhir tausiyahnya, Gus Aab memaparkan fenomena ragam peran kiai di tengah masyarakat yang semuanya memiliki nilai kemuliaan jika dijalankan dengan ikhlas:
Kiai Sumur: Menjadi sumber ilmu tempat umat bertanya dan menimba pengetahuan.
Kiai Penutur: Banyak memberikan ceramah, bimbingan, dan nasihat keagamaan.
Kiai Ngatur: Berperan aktif dalam mengelola organisasi dan kelembagaan umat.
Kiai Nyembur: Dikenal masyarakat karena memberikan ikhtiar penyembuhan dan doa.
“Setiap bentuk pengabdian tersebut memiliki nilai kemuliaan selama dijalankan dengan niat ikhlas dan membawa kemaslahatan bagi umat,” pungkas Gus Aab.
Sebagai informasi, rangkaian acara Halaqah Guru ini juga dirangkai dengan agenda penting lainnya, yaitu Pelantikan Kepala Satuan Pendidikan Pondok Pesantren Annuqayah Masa Bakti 2026-2030. (gik)
Referensi :
Halaqah Guru Pesantren Annuqayah, Ketua LD PBNU Tekankan Sinergi Intelektualitas dan Spiritualitas https://pcnusumenep.or.id/halaqah-guru-pesantren-annuqayah-ketua-ld-pbnu-tekankan-sinergi-intelektualitas-dan-spiritualitas/
Komentar Pembaca